Home / Update / Di Tengah Arus Modernisasi, Kampung Adat Be’a Pawe Tetap Setia Menjaga Warisan Leluhur

Di Tengah Arus Modernisasi, Kampung Adat Be’a Pawe Tetap Setia Menjaga Warisan Leluhur

Ngada, NTT – 22 Januari 2026
Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital, Kampung Adat Be’a Pawe, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tetap berdiri kokoh sebagai ruang hidup yang setia menjaga warisan leluhur. Bagi masyarakat setempat, adat bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan pedoman hidup yang mengatur hubungan manusia dengan alam, sesama, dan para leluhur. Salah satu tokoh masyarakat Kampung Be’a Pawe menegaskan bahwa adat merupakan identitas yang membentuk cara hidup warga sejak lahir hingga akhir hayat. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam sistem Sa’o (rumah adat) serta simbol sakral Ngadhu dan Bhaga, yang mengajarkan kehidupan yang rukun, bermoral, dan seimbang dengan alam semesta.

Kunjungan mahasiswa STKIP Citra Bakti Ngada ke Kampung Adat Be’a Pawe baru-baru ini menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran jurnalistik. Kegiatan tersebut didampingi langsung oleh dosen mata kuliah jurnalistik, Philipus Wungo Kaka, S.Pd., M.Pd., yang memberikan arahan dan penguatan kepada mahasiswa mengenai pentingnya menggali nilai-nilai adat sebagai sumber berita yang edukatif dan bermakna. Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar teknik penulisan jurnalistik, tetapi juga diajak menumbuhkan rasa hormat terhadap budaya lokal serta kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur.

Tradisi Adat yang Masih Hidup

Hingga kini, berbagai tradisi adat masih dijalankan dengan penuh kesadaran dan kebanggaan. Pesta Adat Reba, sebagai perayaan terbesar masyarakat Ngada, menjadi momentum syukur atas hasil panen sekaligus penghormatan kepada leluhur. Perayaan ini diwarnai dengan makan bersama serta tarian Besu Gaya yang sarat makna kebersamaan. Selain itu, Upacara Ka Sa’o menjadi simbol kuat persatuan keluarga besar. Saat rumah adat baru diresmikan, seluruh anggota suku pulang kampung, memotong hewan kurban, dan mempererat ikatan persaudaraan lintas generasi.

Gotong Royong dan Pendidikan Adat

Pelestarian adat di Kampung Be’a Pawe dilakukan melalui praktik hidup sehari-hari. Anak-anak dilibatkan langsung dalam setiap upacara adat agar nilai budaya diwariskan melalui pengalaman nyata. Masyarakat juga secara bersama-sama merawat rumah adat dan tempat-tempat sakral sebagai pusat jati diri kampung. Budaya gotong royong menjadi kekuatan utama dalam setiap ritual adat, baik dari segi tenaga maupun pembiayaan, sehingga tradisi tetap lestari tanpa memberatkan satu pihak.

Tantangan Generasi Muda

Di tengah keterlibatan generasi muda dalam berbagai tradisi, tantangan pelestarian adat semakin terasa. Masuknya budaya luar melalui internet, tingginya angka perantauan, serta biaya ritual adat yang besar menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan bahan alami untuk pembangunan rumah adat dan pembuatan tenun tradisional juga mulai dirasakan. Namun demikian, masyarakat Kampung Be’a Pawe terus berupaya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dokumentasi budaya, pengemasan adat secara digital, serta promosi wisata budaya melalui media sosial mulai dilakukan agar tradisi tetap relevan bagi generasi muda.

Rumah Adat Sa’o, Pusat Kehidupan Kampung

Rumah adat Sa’o tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Dibangun dari bahan alami seperti alang-alang, Sa’o digunakan sebagai ruang musyawarah, penyimpanan pusaka, serta tempat pelaksanaan upacara adat. Pelestarian rumah adat dilakukan melalui perawatan gotong royong, pewarisan keahlian pertukangan tradisional kepada generasi muda, serta pemanfaatannya sebagai ruang edukasi dan kegiatan sosial.

Air Terjun Wae Roa Jadi Daya Tarik Wisata Baru

Selain kekayaan budaya, Desa Be’a Pawe juga memiliki potensi wisata alam. Air Terjun Wae Roa kini mulai dikenal sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Ngada. Keindahan aliran air yang jernih serta suasana alam yang masih asri menjadikan lokasi ini cocok untuk wisata keluarga dan wisata alam. Pemerintah desa bersama masyarakat setempat mengajak para pengunjung untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dengan pengelolaan yang baik, Air Terjun Wae Roa diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi wisata Desa Be’a Pawe ke tingkat yang lebih luas.

Masyarakat Kampung Adat Be’a Pawe berharap adat tetap menjadi kompas moral bagi generasi mendatang. “Jangan pernah malu dengan identitasmu, adat adalah jangkar yang menjaga kita agar tidak kehilangan arah,” pesan seorang tokoh adat. Pelestarian adat di Kampung Be’a Pawe tidak hanya menjaga tradisi lokal, tetapi juga merawat akar kebudayaan bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *