
Program studi Pendidikan musik STKIP Citra Bakti menyelenggarakan pentas seni dengan tema “ LOKA TUA MATA API LEGATO”. Ini bukan hanya sekadar tema yang dipilih, namun ada makna dibalik tema tersebut yakni pementasan seni bukan hanya pertunjukan semata tetapi melibatkan unsur kebersamaan dengan semua pihak lewat saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman serta memberikan ruang kepada semua orang untuk bisa menikmati seni itu sendiri. Kegiatan tersebut merupakan program unggulan dari program studi Pendidikan musik yang dilaksanakan pada Selasa, 27 Januari 2026, bertempat di Aula STKIP Citra Bakti, kegiatan tersebut dimulai pada pukul 16.00 – 22.00 WITA. Kegiatan ini melibatkan seluruh mahasiswa aktif dari program studi pendidikan musik dan dihadiri oleh para dosen, orang tua mahasiswa, para praktisi musik serta Dinas Kebudayaan Kabupaten Ngada . Pentas seni ini diadakan setiap setahun sekali serta menjadi bagian penting untuk program studi Pendidikan musik. Kegiatan ini sebagai luaran mata kuliah ansambel, harmoni, sendratari, aransemen dan komposisi musik. Pentas seni ini bukan hanya sekadar penilain tetapi juga sebagai wadah mengekspresikan dan pengembangan potensi diri.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua Sekolah Dr. Dek Ngurah Laba Laksana.,M.Pd. Dalam sambutanya beliau sangat mengapresiasikan kegiatan pentas seni ini. Setelah kegiatan tersebut dibuka, dilanjutkan dengan kegiatan inti dimana seluruh mahasiswa program studi pendidikan musik mengekspresikan berbagai pentas seni baik tradisional maupuan modern diantaranya menampilkan ansambel, harmoni, sendratari, aransemen dan komposisi musik. Disela-sela pertunjukan tersebut adapun penampilan dari beberapa group band yang diundang. Hasil dari kegiatan ini bukan hanya sebagai luaran mata kuliah tetapi juga bagaimana mereka mengkolaborasikan antara musik tradisisonal dan modern dalam berbagai pementasan, sehingga output dari kegiatan tersebut bukan hanya berdampak pada pedagogis tetapi lebih kepada bagaimana mahasiswa menjaga keberadaan budaya itu sendiri.

Acara tersebut tidak berhenti pada pementasan saja melainkan ada hal yang juga tidak kalah penting yaitu mengadakan diskusi bersama mengenai kegiatan tersebut berupa evaluasi dan perencanaan khas Loka Tua Mata Api. Dalam sesi ini diberikan kesempatan kepada forum untuk dapat menyampaikan segala buah pikiran baik itu berupa apresiasi maupuan kritik dan saran yang dapat menunjang keberlangsungan segala kegiatan yang akan dilakukan oleh program studi pendidikan musik kedepanya. Berikut merupakan tanggapan dari berbagai pihak terkait kegiatan ini :
- Ibu Paschalia Dolorosa Moi sebagai Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Ngada. Beliau menyatakan bahwa “Ibu sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena kegiatan yang diselenggarakan ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat. Dimana kami dari kebudayaan sangat bangga karena mahasiswa program studi pendidikan musik dapat mengkolaborasikan tradisional dan modern melalui musik, tidak hanya sebagai wadah pendidikan pada umumnya tetapi merupakan wadah mengekspresikan yang baik serta menjadi incubator dalam dokumentasi budaya, ekpresi budaya, pengenalan keragaman budaya”.Dinas Kebudayaan merupakan salah satu lembaga yang selalu mengapresiasiakan segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan budaya.
- Bapak Emililanus Yakob Sese Tolo. Bapak Emil salah satu praktisi yang pada saat ini sedang melanjutkan studi Doctoral di Inggris yang berkenan hadir dalam kegiatan pentas seni. Menurut beliau, STKIP Citra Bakti yang kedengaranya tidak berkesan dalam pandangan global, tetapi dengan berbagai eksplorasi salah satunya dari program studi Pendidikan musik melalui berbagai pementasan seni dan kolaborasi musik baik tradisional maupun modern diberbagai tempat yang melahirkan sudut pandang berbeda tentang STKIP yang bukan hanya sebagai wadah mengembangkan potensi akademik saja tetapi juga bagaimana STKIP mempertahankan eksistensi kebudayaan lewat kegiatan mahasiswa dalam mengekspresikan budaya melalui kegiatan yang berkaitan dengan seni. Salah satunya dapat dilihat dari kegiatan pentas seni yang diselenggarakan oleh mahasiswa program studi Pendidikan musik dengan tema “ LOKA TUA MATA API “.
- Ibu Leni salah satu wali dari mahasiswa aktif program studi Pendidikan musik semester 5. Beliau sangat mengapresiasi kegiatan ini, namun yang menjadi masukan adalah sebaiknya kegiatan besar seperti ini agar tidak membebankan mahasiswa terkait dana, maka sebaiknya adakan pengajuan proposal. Salah satunya mempromosikan program studi melalui kegiatan ini dengan mengundang para tamu, bukan hanya orang tua atau wali tetapi perlu melibatkan masyarkat sekitar lingkup citra bakti maupun masyarakat dari luar yang ingin menyaksikan.
- Ketua Sekolah Citra Bakti Dr. Dek Ngurah Laba Laksana.,M.Pd. Beliau memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini, karena sangat menarik dan edukatif. Pengapresiasian sebuah seni menurut beliau merupakan hal yang wajib karena dari hasil apresiasi dapat melahirkan ide maupuan masukan. Begitupula dengan musik, untuk dapat memberikan penilainan terkait musik sebenarnya terletak pada selera musik seseorang. Oleh karena itu, bapak menegaskan bahwa menilai kekurangan sebuah karya terutama yang sudah dipentaskan baik itu musik tradisional maupuan modern tidak hanya dilihat bagaimana mereka mengekspresikan tetapi juga bagaimana audiens turut merasakan. Keterbatasan sarana dan prasarana merupakan bagian dari proses namun yang menjadi hal paling mendasar dalam seni adalah bagaimana cara kita mengintergrasikan seni itu sendiri. Selain itu juga peningkatan SDM dalam management pertujunkan harus diupayakan agar mempermudah kegiatan seperti ini.
- Tanggapan Yulius Benediktus Soro selaku ketua panitia. Mengenai berbagai kendala yang dihadapi selama persiapan dan pelaksanaan kegiatan tersebut. Meskipun banyak masalah teknis seperti kekurangan fasilitas, sarana prasarana panitia tetap semangat dan bertekad untuk menjalankan tugasnya dengan baik, karena acara ini merupakan proyek akhir mereka sekaligus tradisi yang harus terus dilanjutkan dan ditingkatkan dari angkatan ke angkatan. Panitia menekankan pentingnya memiliki tujuan yang jelas agar kendala apapun dapat diatasi dan menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun keakraban dan hubungan yang erat antar peserta, dengan musik sebagai medium yang mengalir dan menyatukan semua orang. Pesan akhir menyoroti pentingnya evaluasi untuk perbaikan di masa depan dan menjaga nilai inti kegiatan yaitu keakraban, kerjasama, dan rasa yang tulus dalam setiap penyelenggaraan.
- Ibu Hermania Bupu.,M.Pd sebagai salah satu dosen Pendidikan musik. Perubahan yang paling terasa dari volume pertama hingga volume ke empat ini adalah semakin baik pada manajemen pertunjukannya, mulai dari pemanfatan teknologi media/digital, perubahan struktur pertunjukan di mana sajian seni musiknya menjadi lebih padat, ringkas dan fokus pada kreativitas. Semakin banyak kreativitas dan kolaborasi dimana sudah memasukan unsur- unsur kontemporer, target audiens dan pengemasan lebih menarik untuk menjangkau para generasi muda. Tantangan yang selalu muncul di setiap volume itu adalah mengatasi keterlambatan para mahasiswa pada saat latihan. Disiplin pada saat latihan itu yang masih kurang diperhatikan dan hal ini yang perlu diubah dari setiap volume. Jika berbicara mengenai waktu latihan ini sebenarnya sangat singkat sekali. Persiapan dimulai sejak Desember, sekitar satu minggu setelah kegiatan Expo. Setelah itu masuk libur Natal. Usai liburan, waktu latihan penuh hanya berlangsung satu minggu karena pada 10–23 Januari berlangsung UAS. Hal ini mempengaruhi waktu efektif untuk latihan. Untuk perkembangan kualitas musikalitas mereka dari tahun ke tahun itu sudah semakin baik dan mengalami peningkatan karena bergeser dari pendekatan konvensional yang berbasis penguasaan alat musik tradisional menuju pendekatan modern yang didominasi teknologi digital dan kreativitas mandiri. Dengan adanya perkembangan teknologi yang sudah sangat maju, jadi pembelajaran untuk mengembangakan musikalitas mereka tidak terbatas lagi pada kelas fisik melainkan memungkinkan mereka untuk belajar mandiri.
- Ada hal yang menjadi perhatian penting dalam kegiatan pentas seni ini yaitu kurangnya manajemen waktu. Pada kegiatan kemarin adapun kekurangan pada manajemen waktu yaitu para peserta kegiatan tidak hadir sesuai dengan waktu pelaksanaan yang sudah disepakati. Adapun faktor lain yang menjadi hambatan, yaitu pengaruh cuaca yang kurang mendukung.
Berbagai tanggapan yang disampaikan melahirkan sebuah gagasan tentang bagaimana program studi pendidikan musik menerima segala bentuk apresiasi sebagai bentuk penghargaan dan juga semua kritik dan masukan guna membawa perubahan bukan hanya kepada program studi itu sendiri, melainkan juga bagi mahasiswa dan juga seni.

Pada acara pentas seni yang baru saja digelar oleh Program Studi Pendidikan Musik terdapat elemen kolaboratif yang sangat menonjol, yaitu kehadiran para tamu undangan dari berbagai kalangan masyarakat. Hal ini menjadi salah satu daya tarik utama dari kegiatan tersebut, karena melibatkan bukan hanya komunitas akademik internal seperti dosen – dosen, tetapi juga pihak eksternal yaitu orang tua ataupun wali dari mahasiswa program studi pendidikan musik khususnya orang tua atau wali semester 5 untuk melihat bagaimana metode dan proses pembelajaran yang terjadi pada progaram studi musik. Tidak hanya itu perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Ngada turut hadir dalam kegitan tersebut.
Hal yang paling menarik dalam kegiatan ini yaitu, tradisi meghe. Meghe merupakan proses pembagian makanan tradisi etnis Ngadhu Bhaga yang dimana keunikannya terlihat dari proses pembagian makanan. Pembagian makanan yang dimaksud adalah tamu undangan tidak lagi mengambil makanan yang di siapkan, tetapi prosesnya di lakukan oleh beberapa orang dengan perannya masing-masing. Beberapa orang perempuan mebagikan Beka (piring adat etnis Ngadhu Bhaga),dan beberapa laki-laki berperan membagikan nasi, daging dan Tua (minuman khas etnis ngadhu bhaga), sehingga dalam kegiatan ini tidak hanya berfokus pada musik tradisional saja, melainkan juga mempertahankan tradisi meghe, agar mahasiswa yang hidup pada era globalisasi saat ini tetap mempertahankan eksistensi budaya bukan hanya melalui ekpresi seni saja melainkan melalui proses kolaborasi antara unsur budaya satu dengan yang lain termasuk tradisi meghe yang diwariskan secara turun temurun.

Secara keseluruhan tema yang diangkat memberikan makna tentang modernisasi, tradisi serta melibatkan unsur kebersamaan dengan semua pihak lewat saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman serta memberikan ruang kepada semua orang untuk bisa menikmati seni itu sendiri. Oleh karena itu hal ini harus menjadi sebuah ruang pengembangan dan pemanfaatan budaya. Dari kegiatan ini memberikan kesan tentang etika dalam mengekspresikan seni pertunjukan, tata busana, wirasa, wiraga, wirama dan tentunya dalam penampilanya kita perlu melihat tentang pentingnya seni untuk dikemas seintertein mungkin jika berbicara mengenai seni pertunjukan, sedangkan seni tradisional berada di tataran pelestarian pada masyarakat sehingga menjadikan seni tradisional tetap hidup, berkembang, dan bertahan karena dilestarikan langsung oleh masyarakat. Harapanya tetap membangun sinergisitas yang baik, karena pada tataran sekarang ini berbicara mengenai nilai dan tradisi dalam seni mempunyai daya jual jika dibedah dalam aspek ekonomi. Keterbatasan sarana dan prasarana merupakan bagian dari proses namun yang menjadi hal paling mendasar dalam seni adalah pada era globalisasi saat ini tetap mempertahankan eksistensi budaya bukan hanya melalui ekpresi seni saja melainkan melalui proses kolaborasi antara unsur budaya satu dengan yang lain serta bagaimana cara kita mengintergrasikan seni itu sendiri baik itu sebagai mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya.



