
MAUKARO – Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) STKIP Citra Bakti Ngada kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak pendidik yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga matang secara sosial. Hal ini dibuktikan dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan Live In di Desa Kebirangga, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende.Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 8–10 Mei 2026, ini mengusung tema besar: “Belajar Bersama Masyarakat: Penguatan Kompetensi Mahasiswa PG-PAUD melalui Pengalaman Hidup dan Pengasuhan Anak di Lingkungan Desa.”
Latar Belakang: Melampaui Batas Ruang Kuliah
Kegiatan Live In ini lahir dari kesadaran bahwa tantangan dunia pendidikan anak usia dini di lapangan sangatlah kompleks. Teori-teori perkembangan anak yang dipelajari di kampus seringkali membutuhkan penyesuaian saat berhadapan dengan realita sosial-ekonomi dan kearifan lokal di pedesaan.
Desa Kebirangga dipilih sebagai lokasi karena karakteristik masyarakatnya yang kental dengan nilai-nilai gotong royong dan pola pengasuhan tradisional yang unik. Dengan terjun langsung, mahasiswa diharapkan mampu menyelaraskan antara kurikulum modern dengan realitas pola asuh anak di lingkungan pesisir dan pedesaan.
Tujuan dan Manfaat: Membentuk Pendidik yang Humanis
Kegiatan wajib bagi 178 mahasiswa Semester II dan IV ini dirancang dengan tujuan strategis:
1. Penguatan Kompetensi Sosial: Mahasiswa dilatih untuk mampu berkomunikasi dan beradaptasi dengan berbagai lapisan masyarakat, dari perangkat desa hingga orang tua asuh.
2. Observasi Pola Asuh Riil: Memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengamati secara langsung bagaimana nilai-nilai karakter ditanamkan dalam keluarga di desa.
3. Implementasi Ilmu:Menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mempraktikkan keterampilan mengajar (seperti storytelling) di lingkungan yang non-formal.
4. Pengembangan Karakter: Melalui hidup sederhana bersama warga, mahasiswa belajar tentang empati, kemandirian, dan rasa syukur.
Perjalanan Tiga Hari: Dari Adaptasi Hingga Pengabdia
Hari Pertama: Membuka Hati di Keluarga Asuh
Rombongan berangkat dari Kampus STKIP Citra Bakti pada Jumat (8/5) pagi, dilepas dengan doa dan semangat kebersamaan. Setibanya di Desa Kebirangga, kehangatan warga langsung terasa saat seremoni pembukaan. Dosen pendamping, Ibu Elfrida Ita, M.Pd dan Bapak Yanuarius Ricardus Natal, S.Pd., M.Pd.menekankan pentingnya menjaga etika selama berproses.
Setelah pembagian rumah, mahasiswa tidak tinggal di penginapan mewah, melainkan di rumah-rumah warga sebagai “anak angkat”. Di sini, proses belajar dimulai. Mahasiswa ikut memasak di dapur tungku, menimba air, dan mengikuti ritme kehidupan orang tua asuh mereka.
Hari Kedua: Aksi Nyata dan Sinergi Edukasi
Sabtu (9/5) menjadi puncak aktivitas fisik dan intelektual. Sejak pagi, mahasiswa berpencar melakukan kerja bakti di gereja, masjid, dan pasar sebagai bentuk bakti sosial. Tak hanya itu, aspek profesionalisme keguruan ditunjukkan melalui praktik Storytelling di beberapa lembaga PAUD seperti Kober Ilham Neo Niba, TK ST. Gedrudis Mau Karo, dan Kober Terpadu ST. Paulus Kotakadhe.
Menariknya, mahasiswa membawakan alat peraga edukatif (APE) kreatif hasil karya mereka sendiri, yang membuat anak-anak desa tampak sangat antusias. Pada sore hari, kebersamaan berlanjut dengan penataan halaman dusun. Malam harinya, suasana khidmat menyelimuti desa saat mahasiswa berbaur dalam Doa Rosario, disusul dengan sesi sharing Parenting. Di sini, para dosen berbagi ilmu pola asuh sehat kepada warga, menciptakan dialog dua arah yang hangat.
Hari Ketiga: Perpisahan yang Menitikkan Air Mata
Minggu (10/5), rangkaian kegiatan ditutup dengan Misa bersama di Kapela Desa Kebirangga. Usai ibadah, tim dosen melakukan sosialisasi program studi kepada kaum muda setempat, membuka wawasan tentang pentingnya pendidikan tinggi. Acara makan siang bersama di Kantor Desa menjadi momen emosional. Kepala Desa dan tokoh masyarakat menyampaikan apresiasi tinggi atas kehadiran para mahasiswa yang dianggap telah membawa warna baru di Kebirangga. Tepat pukul 15.00 WITA, rombongan bertolak kembali ke Ngada dengan membawa “oleh-oleh” berupa kedewasaan dan pemahaman mendalam tentang arti seorang pendidik.

Penutup: Laboratorium Kehidupan yang Mendewasakan
Kegiatan Live In ini pada akhirnya membuktikan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Bagi para mahasiswa PG-PAUD STKIP Citra Bakti Ngada, tiga hari di Desa Kebirangga bukan sekadar perjalanan akademik untuk memenuhi tugas semester, melainkan sebuah transformasi karakter. Mereka pulang tidak hanya dengan membawa data observasi, tetapi dengan hati yang lebih peka terhadap realitas pengasuhan anak di akar rumput.
Interaksi yang terjalin antara mahasiswa, anak-anak desa, dan orang tua asuh menciptakan sebuah sinergi pendidikan yang inklusif. Mahasiswa kini memahami bahwa menjadi pendidik PAUD berarti siap menjadi bagian dari masyarakat, memahami budaya lokal, dan mencintai anak-anak dengan segala latar belakangnya. Pengalaman hidup di Kebirangga ini akan menjadi fondasi kuat yang membentuk mereka menjadi calon guru yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga memiliki dedikasi dan empati yang tinggi dalam mendampingi tumbuh kembang generasi masa depan.
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan ini, Desa Kebirangga akan selalu diingat sebagai laboratorium kehidupan yang telah memberikan pelajaran berharga tentang kemanusiaan, pengabdian, dan arti sesungguhnya dari mendidik dengan hati.
Penutup
Ketua Panitia menegaskan bahwa Live In i adalah investasi jangka panjang bagi kualitas lulusan STKIP Citra Bakti.
“Mahasiswa tidak hanya belajar menjadi guru di depan kelas yang berdinding tembok, tetapi belajar menjadi bagian dari denyut nadi masyarakat. Pengalaman di Kebirangga adalah guru terbaik yang akan membentuk mereka menjadi pendidik PAUD yang peka, tulus, dan humanis,” tutupnya.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, Desa Kebirangga tidak lagi sekadar nama di peta bagi para mahasiswa, melainkan laboratorium kehidupan yang telah mendewasakan cara pandang mereka terhadap dunia pendidikan anak usia dini



